Ramadanthy Islamic School

Pagi itu, hujan turun tanpa ragu di atas lingkungan Ramadanthy Islamic School. Sejak dari jam 6.30, langit sudah tampak berat, seolah menyimpan air yang tak ingin ditahan lebih lama. Ketika jarum jam baru menunjuk pukul 6.50, hujan deras benar-benar mencurahkan dirinya, membasahi halaman sekolah, atap gedung, dan jalanan menuju gerbang. Namun hari ini bukan pagi yang bisa dilewati dengan alasan cuaca. Hari ini adalah H-1 persiapan CMP RIS 2025, dan semangat para siswa telah siap sejak sebelum hujan memutuskan untuk datang.

Satu per satu siswa tiba di sekolah dengan payung di tangan dan sepatu yang mulai basah. Beberapa di antaranya berlari kecil dari gerbang menuju selasar, menghindari genangan air yang semakin melebar. Nafas mereka sedikit terengah, bukan karena lelah, tetapi karena rasa antusias yang sulit disembunyikan. Wajah-wajah muda itu tampak cerah, menyimpan semangat yang bahkan hujan deras pun tak mampu redupkan.

Di aula utama, suara langkah kaki berpadu dengan bunyi hujan yang menghantam atap. Ruangan masih terasa dingin, lantai sedikit licin, namun para siswa segera menempati posisi latihan. Tanpa banyak aba-aba, mereka mulai melakukan pemanasan. Gerakan tangan dan kaki dilakukan perlahan, napas diatur, tubuh disiapkan. Uap tipis dari tubuh yang mulai bergerak bercampur dengan udara pagi yang lembap, menciptakan suasana khas latihan pagi yang penuh kesungguhan.

Kelompok penampil satu per satu mulai mengulang materi mereka. Ada siswa yang melatih koreografi dengan hitungan yang lantang, ada pula yang berlatih vokal dengan nada-nada yang menggema di aula. Suara musik sesekali diputar, lalu dihentikan, lalu diputar kembali. Kesalahan kecil langsung diperbaiki, gerakan diulang dari awal, tanpa keluhan. Mereka paham, pagi ini adalah kesempatan terakhir untuk memantapkan semuanya sebelum hari Sabtu, 20 Desember 2025, tiba.

Di sudut aula, beberapa siswa terlihat berdiskusi serius. Mereka membicarakan urutan masuk, posisi berdiri, dan isyarat kecil yang harus diingat saat tampil nanti. Tangan-tangan mereka bergerak mengikuti imajinasi, seolah panggung sudah berdiri di hadapan mata. Meski sesekali terdengar tawa ringan, fokus tetap menjadi prioritas utama. Pagi yang basah ini terasa sangat berarti.

Sementara itu, hujan di luar belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Air mengalir di sela-sela selokan, menciptakan suara gemericik yang konstan. Namun di dalam aula, suasana justru semakin hidup. Setiap kali musik diputar, para siswa bergerak dengan penuh tenaga, seakan hujan di luar adalah tantangan yang harus dikalahkan dengan semangat. Tidak ada wajah muram, yang ada hanyalah tekad.

Di koridor sekolah, beberapa siswa lain memanfaatkan ruang sempit untuk latihan mandiri. Ada yang mengulang dialog dengan suara pelan, bibir mereka bergerak cepat menghafal setiap kalimat. Ada pula yang melatih ekspresi di depan kaca jendela, memastikan setiap emosi tersampaikan dengan tepat. Sesekali mereka saling memberi masukan, memperbaiki intonasi atau gerakan tangan. Pagi ini, setiap sudut sekolah menjadi ruang belajar.

Guru-guru mulai berdatangan, menyaksikan langsung semangat para siswa. Mereka tidak hanya mengawasi, tetapi juga memberi dorongan. Sebuah senyum, anggukan kecil, atau kalimat penyemangat sederhana terasa begitu berarti. Kehadiran guru di pagi hujan ini menambah rasa aman dan percaya diri bagi para siswa. Mereka merasa ditemani, tidak berjuang sendirian.

Latihan terus berlanjut. Keringat mulai muncul di dahi, meski udara masih terasa dingin. Beberapa siswa mengusap wajah dengan lengan baju, lalu kembali ke posisi semula. Tidak ada yan

g meminta jeda panjang. Waktu terasa berharga, setiap menit dimanfaatkan sebaik mungkin. CMP RIS 2025 bukan sekadar acara, tetapi wadah bagi mereka untuk menunjukkan hasil usaha dan kerja sama.

Menjelang pertengahan pagi, hujan masih turun dengan intensitas yang sama. Namun semangat siswa justru semakin terasah. Mereka mulai melakukan simulasi singkat, mencoba menampilkan bagian tertentu dengan penuh penghayatan. Ada rasa gugup yang muncul, terlihat dari tarikan napas yang lebih dalam, namun rasa itu tidak berubah menjadi ketakutan. Justru menjadi energi tambahan untuk tampil lebih baik.

Di antara latihan, terdengar saling menyemangati. Kalimat-kalimat sederhana seperti “Ulangi sekali lagi, pasti bisa” atau “Tadi sudah bagus, tinggal dirapikan” mengalir alami. Tidak ada ejekan, tidak ada saling menyalahkan. Pagi itu, kebersamaan terasa begitu kuat. Hujan yang seharusnya melemahkan justru menjadi latar yang menguatkan.

Ketika jarum jam terus bergerak, latihan pagi perlahan mendekati akhirnya. Namun sebelum benar-benar berhenti, para siswa mengulang sekali lagi bagian yang dirasa paling penting. Dengan sisa tenaga dan fokus penuh, mereka memberikan yang terbaik. Suara musik terakhir menggema, langkah terakhir diselesaikan, dan napas panjang dilepaskan bersama-sama.

Pagi H-1 CMP RIS 2025 di Ramadanthy Islamic School ditutup dengan rasa puas yang sederhana. Hujan masih turun, lantai masih basah, dan seragam beberapa siswa masih lembap. Namun di balik semua itu, ada keyakinan yang tumbuh: mereka telah berusaha sebaik mungkin. Pagi ini menjadi saksi bahwa semangat latihan tidak pernah tunduk pada cuaca, dan bahwa kerja keras yang dilakukan dengan hati akan selalu meninggalkan jejak yang berarti.

Tinggalkan Balasan