Ramadanthy Islamic School

Langit masih gelap ketika halaman SDIT Ramadanthy mulai dipenuhi langkah-langkah kecil yang bersemangat. Jam menunjukkan sekitar pukul 05.30 pagi. Udara masih dingin, embun masih menempel di dedaunan, tapi suasana sekolah sudah terasa hidup. Hari itu bukan hari belajar biasa. Hari itu adalah hari kunjungan edukasi—sebuah perjalanan yang sudah lama ditunggu oleh para siswa.

Satu per satu siswa datang diantar orang tua. Ada yang masih mengusap mata, ada yang sudah rapi dan segar, ada juga yang memeluk tasnya seperti membawa harta karun. Wajah mereka memancarkan rasa penasaran. Di tangan mereka ada bekal, botol minum, dan topi. Di hati mereka ada rasa tidak sabar untuk segera berangkat.

Guru-guru sudah berdiri di gerbang sejak pagi, menyambut setiap siswa dengan senyum. Panitia memegang daftar hadir, memanggil nama satu per satu. Suara sapaan, tawa kecil, dan obrolan riang bercampur menjadi satu harmoni pagi yang hangat. Orang tua memberikan pesan terakhir, “Dijaga ya, miss,” atau “Belajar yang baik, Nak.” Anak-anak mengangguk cepat—pikiran mereka sudah melaju lebih dulu ke tempat tujuan.

ramadanthy-wisata-edukasi-perpusnas-museum-nasional-ancol-kumpul-sebelum-berangkat

Pukul 06.00 seluruh peserta sudah hampir lengkap. Barisan dibentuk. Doa safar dibaca bersama-sama. Suasana mendadak khusyuk. Di tengah keramaian, ada ketenangan yang terasa. Seolah semua sepakat bahwa perjalanan ini bukan sekadar jalan-jalan, tapi juga perjalanan menjemput pengalaman.

Tepat pukul 06.30, rombongan berangkat dari sekolah. Dua bus besar mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman. Tangan-tangan kecil melambai ke arah orang tua. Ada yang menempel di kaca jendela, ada yang langsung sibuk bercerita dengan teman sebangku. Perjalanan pun dimulai.

Di dalam bus, suasana cepat berubah menjadi meriah. Anak-anak bernyanyi bersama, memainkan tebak kata, dan saling bertukar camilan. Guru-guru beberapa kali mengingatkan agar tidak berdiri dan tetap duduk rapi, tapi keceriaan tetap sulit dibendung. Perjalanan terasa seperti ruang kelas yang berubah menjadi panggung petualangan.

Tujuan pertama adalah Perpustakaan Nasional. Di sepanjang jalan, guru menjelaskan sekilas tentang tempat yang akan dikunjungi. Tentang gedung tinggi berisi jutaan buku. Tentang tempat di mana ilmu disimpan seperti harta berharga. Anak-anak mendengarkan dengan takzim—meski sesekali perhatian mereka teralih oleh pemandangan di luar jendela.

Di tengah perjalanan, bus kedua mengalami kendala teknis. Laju kendaraan melambat, lalu berhenti di sisi jalan. Beberapa guru segera turun untuk berkoordinasi. Anak-anak sempat bertanya-tanya, wajah mereka terlihat khawatir. Namun kepanikan tidak berlangsung lama. Bus pengganti sudah disiapkan dan datang tidak lama kemudian. Proses perpindahan dilakukan dengan tertib. Dari kejadian kecil itu, anak-anak belajar bahwa masalah bisa datang kapan saja, tapi solusi selalu bisa diupayakan dengan tenang.

ramadanthy-wisata-edukasi-perpusnas-museum-nasional-ancol-bis-2-kendala

Setelah perjalanan kembali lancar, rombongan akhirnya tiba di Perpustakaan Nasional. Gedungnya menjulang tinggi, tampak megah dan modern. Banyak siswa terdiam beberapa detik saat turun dari bus. Mereka mendongak, menatap ke atas, seolah melihat menara ilmu yang sangat besar.

ramadanthy-wisata-edukasi-perpusnas-museum-nasional-ancol-kumpul-tiba-di-perpusnas

Di dalam, rombongan disambut oleh kakak-kakak pemandu. Mereka menyambut dengan ramah dan penuh energi. Siswa diarahkan ke sebuah ruang khusus untuk sesi pengenalan. Penjelasan disampaikan dengan bahasa sederhana dan cerita yang hidup. Tidak kaku, tidak membosankan. Justru terasa seperti sedang mendengarkan dongeng.

Anak-anak duduk rapi saat sesi cerita dimulai. Kakak pemandu membawakan kisah tentang pentingnya membaca, tentang tokoh-tokoh hebat yang dekat dengan buku, dan tentang bagaimana satu buku bisa mengubah jalan hidup seseorang. Mata para siswa fokus. Beberapa bahkan maju ke depan saat diminta menjawab pertanyaan. Tangan-tangan kecil terangkat tinggi, berebut ingin menjawab.

Setelah sesi cerita, tibalah waktu yang paling ditunggu: menjelajah koleksi buku. Siswa diajak masuk ke area baca anak. Rak-rak buku tertata rapi, penuh warna, penuh judul menarik. Ada buku sains bergambar, kisah nabi, cerita petualangan, komik edukasi, dan ensiklopedia mini.

ramadanthy-wisata-edukasi-perpusnas-museum-nasional-ancol-baca-di-perpus

Suasana mendadak tenang—tenang yang indah. Anak-anak tenggelam dalam bacaan masing-masing. Ada yang duduk lesehan, ada yang bersandar di kursi, ada yang membaca berdua sambil berbisik kagum. Halaman demi halaman dibuka dengan rasa ingin tahu. Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya.

Setelah cukup waktu membaca dan berkeliling, rombongan bersiap menuju tujuan berikutnya: kawasan Monumen Nasional. Perjalanan dilanjutkan dengan bus. Di jalan, beberapa siswa mulai terlihat lelah, tapi semangat tetap menyala saat mendengar kata “Monas”.

ramadanthy-wisata-edukasi-perpusnas-museum-nasional-ancol-foto-di-depan-monas

Sesampainya di area Monas, rombongan beristirahat sejenak dan bersiap menunaikan sholat Jumat bagi siswa dan guru laki-laki. Yang lain menunggu dengan tertib sambil makan siang. Kebersamaan terasa kuat. Duduk melingkar, berbagi cerita, bertukar bekal.

Setelah sholat Jumat, kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi ruang diorama. Di sinilah sejarah terasa hidup. Ruangan agak gelap, dengan kotak-kotak kaca berisi miniatur peristiwa penting bangsa. Pemandu menjelaskan tentang pembangunan Monumen Nasional—dari gagasan awal, proses pembangunan, hingga maknanya sebagai simbol perjuangan.

Anak-anak mendekat, menatap detail diorama. Ada miniatur pekerja, alat berat, dan suasana pembangunan masa lalu. Penjelasan itu membuat mereka sadar bahwa sebuah monumen besar tidak berdiri begitu saja—ada kerja keras dan cita-cita di baliknya.

Setelah sesi sejarah, perjalanan berlanjut ke destinasi terakhir: Ancol. Begitu bus mendekati kawasan pantai, sorak kecil mulai terdengar. Energi yang sempat turun mendadak naik lagi. Seperti baterai yang diisi penuh.

Di pantai Ancol, sepatu dilepas, kaki menyentuh pasir. Angin laut menyambut dengan lembut. Anak-anak berlarian bebas. Ada yang langsung bermain bola, ada yang menggali pasir, ada yang sibuk membuat istana pasir lengkap dengan “benteng” dan “jembatan”.

ramadanthy-wisata-edukasi-perpusnas-museum-nasional-ancol-di-ancol

Tawa pecah di mana-mana. Permainan demi permainan dicoba. Guru-guru ikut tersenyum melihat keceriaan itu. Tidak ada layar gadget, tidak ada tugas tertulis—yang ada hanya interaksi nyata, gerak tubuh, dan kegembiraan murni.

Beberapa siswa mengumpulkan kerang. Sebagian menulis nama di pasir. Sebagian lagi hanya duduk memandang ombak. Setiap anak menikmati dengan caranya sendiri.

Menjelang senja, rombongan membersihkan diri dan berkumpul. Sholat Maghrib dilaksanakan bersama. Langit berubah jingga ke ungu. Hari panjang itu perlahan mendekati penutup.

Setelah sholat, anak-anak kembali ke bus. Kali ini suasana jauh lebih tenang. Banyak yang tertidur sebelum bus keluar area parkir. Yang masih terjaga berbicara pelan, mengulang cerita hari itu—tentang buku favorit, diorama paling keren, dan istana pasir terbesar.

Perjalanan kembali ke sekolah terasa seperti memutar ulang kenangan dalam kepala. Satu hari, tiga tempat, ratusan pengalaman. Kunjungan edukasi ini bukan sekadar rekreasi. Ini adalah pembelajaran yang berjalan, bernapas, dan terasa nyata.

Saat bus tiba kembali di sekolah, malam sudah turun. Orang tua menunggu. Anak-anak turun dengan wajah lelah tapi bahagia. Cerita langsung mengalir bahkan sebelum sampai rumah.

Hari itu menjadi bukti bahwa belajar tidak harus selalu di dalam kelas. Ilmu bisa ditemukan di rak buku tinggi, di miniatur sejarah, dan bahkan di butiran pasir pantai. Dan bagi siswa SDIT Ramadanthy, hari itu akan menjadi salah satu kenangan sekolah yang paling menyenangkan.

Tinggalkan Balasan